Tik,Tik,Tik,
Bunyi hujan di atas genteng.
Satu persatu tetes air merangkai memori
Menyulam kembali a, ba, ta, tsa
yang tertanam dalam setiap doanya
airnya turun tidak terkira…
Menjual nyawa demi seonggok daging
yang kelak mejadi pembangkang,
menusuk jantungnya dalam-dalam.
Menggadaikan jiwanya demi bocah
Yang dengan mudah mencuri susu
Dan membayarnya dengan air tuba
Cobalah tengok, dahan dan ranting…
Bukan sulit memilih madu dan racun
Saat kau berkata Tidak!
Dan aku memohon, Jangan!
Bahkan lebih sulit dari menyatukan madu dan madu
Dari dua bejana yang berbeda.
Pohon dan kebun basah semua…
Tuhan…
Tidak ada Tuhan selain Engkau,
dan aku zalim kepada diriku
dan aku zalim kepada dirinya.
Tuhan,
cintaku untukmu
kemudian cintaku untuknya.
Tuhan…
Sampaikan maafku padanya
Dan katakana rinduku untuknya
Bersama langit yang menangis.
Dan lidahpun berkeluh…
IBU….?
Kosan, 05:57 PM
Hujan sudah reda. Semoga beliau juga suda reda.
Bekson: Azan Maghrib, waktu berbuka puasa
NB : cuma pengen pulang, kenapa harus ditunda ? :(
Kota Tepian, 080710



0 komentar on "Hujan Rindu"
Posting Komentar