
Bulan bersinar penuh. Bintang-bintang pun tidak mau kalah berbagi cahaya kepada penduduk Hemel. Terutama bagi sekelompok kanak-kanak yang sedang bersiap-siap untuk kembali ke rumah masing-masing. Hembusan angin malam memberi kesejukan bagi mereka sebagai hadiah kerja keras malam ini. Malam yang ceria, seakan penduduk langit bersorak atas semangat kanak-kanak mencari pahala dari Tuhan Semesta Alam.
Keceriaan malam tidak mampu menarik lengkung bibir tipis Nona Kecil. Dengan langkah lemas, Nona Kecil menyusuri jalan berbatu menuju Rumah Genegenheid. “Aku tidak mau pulang,” jerit Nona Kecil dalam hati.
Nona Kecil menahan langkahnya untuk masuk saat tepat berada di depan Rumah Genegenheid. Secepat kilat sebuah ide muncul untuk berlari menuju Taman Vrolijk, yang berada dua blok dari Rumah Genegenheid.
Sebelum Maghrib, anak-anak di Negeri Hemel di wajibkan tiba di Meunasah untuk sholat Maghrib bersama. Susai sholat, mereka menunggu Isya dengan mengaji bersama atau menghafal ayat suci. Itulah sebabnya, Taman Vrolijk terasa lengang di malam hari.
Nona Kecil merebahkan badannya di atas rumput lembab, tepat di tepi danau. Menyenangkan sekali menatap langit malam. Bulan dan bintang seperti hamparan berlian di atas beludru. Sedikit awan bergerak dari arah Utara. Nona kecil tersenyum melihat awan yang beraneka bentuk. Kelinci, burung berekor ikan, pesawat dengan cerobong asap…
“Nona Kecil?” Suara mencicit menyadarkan Nona Kecil dari lamunannya. Anak perempuan berkerudung biru dengan sedikit ragu-ragu mendekati Nona Kecil.
“Aku mau minta tolong. Tugas melukis besok dari Guru Kleur… Kamu.. kamu tahu kan aku tidak pandai dalam hal ini. Aku mau minta tolong digambarkan polanya saja. Biar aku yang mewarnainya…”
Bahkan nada memelas anak perempuan itu tidak sanggup meruntuhkan benteng di dalam hati Nona Kecil. Maryam, anak itulah yang menjadi penyebab Nona Kecil malas pulang. Si kaca mata itulah yang bacaan Al Qurannya yang sangat merdu. Si cerdas itulah yang mendapat pujian serta hadiah dari Nona Roos karena memberi setoran hafalan ayat suci terbanyak saat di Meunasah tadi. Dan semuanya, membuat Nona Kecil tidak senang.
“Tidak mau,” jawab Nona Kecil ketus.
“Baiklah. Maaf sudah mengganggu.”
Maryam meninggalkan Taman Vrolijk dengan kepala menunduk. Dari lubuk yang paling dalam, muncul perasaan iba pada diri Nona Kecil. Bagaimana kalau tugasnya tidak selesai malam ini? apakah Guru Kleur akan menghukumnya? Ah, tidak mungkin, bukankah dia menghafal ayat suci lebih banyak dari anak-anak di Meunasah? Soal melukis pastilah juga mudah baginya.
“Nona Kecil?” Ada seseorang lagi yang memanggilnya. Tapi kali ini berbeda. Bukan Maryam. Suara lembut penuh kasih sayang. Suara yang setiap subuh membangunkan dia dan teman-temannya di Rumah Genegenheid.
“Madam Mooi?”
“Boleh aku duduk di sebelah mu, Nona Kecil?”
Nona Kecil mengangguk tanda setuju.
“LIhat, Nona Kecil! Buntang itu sedang melambai kepada kita!” MadamMooi menunjuk bitang Utara yang sedang berkelap-kelip. Nona kecil tidak bereaksi. Matanya menatap kosong danau yang selicin kaca.
“Apa yang membuatmu murung, Nona Kecil?”
“Karena aku bodoh dan tidak berguna,” jawab Nona Kecil.
“Kenapa kamu menganggap dirimu seperti itu, Nona Kecil?”
“Dua hari yang lalu Guru Kleur menegurku. Sudah dua kali berturut-turut aku mengulangi kesalahan yang sama dalam pelajaran berhitung. Kemarin, aku tidak sengaja menjatuhkan kotak kubis Tuan Grounte yang menimpa gerobaknya. Bagian belakang gerobak itu rusak dan aku harus menunggu dua hari untuk melanjutkan tugas melukis gerobak. Yang terakhir, Maryam yang mendapat hadiah dari Nona Roos saat menghafal ayat suci di Meunasah tadi.
“Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Madam Mooi. Apa yang kulakukan pasti salah dan mencelakai oran lain. Tidak bermanfaat.”
“Aku sudah berusaha memperbaki tugas berhitung yang diberikan Guru Kleur tapi masih saja salah. Kamu tahu Madam Mooi? Aku sangat tidak suka berhitung! Aku benci pelajaran itu. Makanya, aku selalu mengantuk saat Guru Kleur menjelaskan di kelas.”
“Bagaimana dengan peristiwa gerobak dan hafalan ayat di Meunasah?”
“Tentang gerobak itu, aku betul-betul tidak sengaja. Lagipula Tuan Grounte tidak marah kepadaku.dan mengenai hafalan itu… Aku sudah berusaha. Sebelum tidur aku selalu menghafalkannya. Aku ingin hadiah dari Nona Roos.”
Madam Mooi menarik nafas dalam-dalam.
“Mengerjakan pekerjaan yang sangat kita tidak sukai memang menyebalkan di awal. Selalu ada anggapan bahwa kita tidak mahir atau pandai dan akhirnya, pekerjaan tersebut akan terbengkalai.
“Tapi…. Apa yang tidak kita sukai, apa yang buruk di mata kita, belum tentu buruk di mata Tuhan. Kamu memang tidak menyukai pelajaran berhitung, tapi yakinlah Nona Kecil, hal tersebut akan sangat bermanfaat bagimu di masa mendatang. Tuhan tahu itu, makanya, Dia mempersiapkanmu dari sekarang.”
Nona Kecil menatap bintang Utara. Bagaimana nilai lima dua kali berturut-turut dalam tugas dapat bermanfaat bagi dirinya? Sudahlah, biar Tuhan yang menjawab.
“Mengenai gerobak Tuan Grounte, yang penting dia sudah memaafkanmu. Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan, pernah ceroboh. Tapi kamu harus berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
“Iya, Madam Mooi. Saya berjanji.”
“Dan Maryam… Madam pikir, kamu harus membantunya Nona Kecil.”
“Maryam anak yang cerdas, dia tidak butuh bantuan siapapun.”
“Maryam sanggup menghafal lebih banyak ayat suci dibanding kamu bukan berarti dia juga pandai dalam hal lain. Tuhan memberikan kemampuan dalam hal agama kepada Maryam. Tuhan juga memberikan kemampuan kepadamu dalam hal seni, yang itu tidak dimiliki Maryam.
“Tuhan Maha Adil. Dia memberi kekurangan dan kelebihan kepada tiap hambanya. Dengan begitu mereka akan saling membantu, mengisi kekurangan satu sama lain. Dan itu lah yang akan menciptakan kasih sayang di antara manusia. Tolong menolong dengan keihlasan penuh.
“Maryam membutuhkanmu, Nona Kecil.”
“Apa menurutmu aku bisa membantu Maryam, Madam Mooi? Aku bukan anak yang cerdas.”
“Kamu bisa, Nona Kecil. Kamu ahli melukis. Jadi, lakukan dengan maksimal. Dan ingat, Tuhan sedang melihat dan menilai perbuatanmu. Dia yang akan memberimu imbalan. Bukan aku ataupun Nona Roos. Jangan pernah mengharap imbalan dari makhluk atas perbuatanmu, Nona Kecil. Karena kecerdasan itu ada di sini.” Madam Mooi menunjuk dadanya. “Ikhlas.”
Nona Kecil tersenyum lega mendengar nasihat dari Madam Mooi.
“Madam Mooi?”
“Iya, Nona Kecil?”
“Apakah Tuhan marah kepadaku karena aku telah mengecewakan semua orang? Apakah Tuhan masih menyayangiku?”
“Menurutmu bagaimana, Nona Kecil?”
“Aku ingin…. Tuhan tidak marah dan masih menyayangiku!”
“Ya! Maka Tuhan tidak marah dan menyayangimu, Nona Kecil.”
“Kamu yakin, Madam Mooi? Kenapa? Madam tahu dari mana?”
“Karena Tuhan sesuai prasangka hamba_Nya.”
* * *
Catatan Nona Kecil:
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tugas berhitungku selanjutnya. Tapi aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin. Begitu juga dengan hafalan ayat suci. Dan Maryam, aku akan membantunya. Aku bisa melukis, aku senang melukis. Aku akan mengajari Maryam cara melukis.
Dan Tuhan, akan kulakukan semuanya sambil tersenyum pada_Mu. Agar Kau, bukan Madam Mooi, bukan Nona Roos. juga tersenyum padaku.
Karena cerdas itu ada dalam perbuatan yang baik dan keikhlasan.
* * *
*Dari cerita kemarin malam oleh Dia, yang sedang melihat dan menilaiku. Dia yang tidak marah dan masih terus menyayangiku.
Bukit Hoop, 03:48 PM
Negeri Hemel, 290510


0 komentar on "(Beludru Nona Kecil) : Karena Cerdas Itu Berasal Dari HATI"
Posting Komentar